penangkapan Dewi Astutik gembong narkobaBNN menangkap Dewi Astutik, buronan Interpol yang pernah bekerja sebagai pekerja migran selama 10 tahun. Kisah hidupnya berubah dari TKW menjadi salah satu gembong narkoba yang paling dicari di Asia.Foto:Kolase Dewi Astutik/net/finnews.id

JAKARTA, SAESTUSAE.COM – Ponorogo dan Sihanoukville mungkin terpisah ribuan kilometer, namun di antara dua titik itu, seorang perempuan bernama Paryatin, lebih dikenal sebagai Dewi Astutik, menjalani perjalanan hidup yang tak pernah dibayangkan siapa pun.

Ia lahir di Dukuh Sumber Agung, Desa Balong, Kabupaten Ponorogo. Masa hidupnya di Indonesia bersih dari catatan kriminal. Tidak pernah berurusan dengan narkoba, tidak memiliki riwayat penyalahgunaan, dan tak sekalipun tersangkut persoalan hukum.

Nama Dewi Astutik yang sering disebut belakangan ini sejatinya bukan identitas aslinya. Di KTP ia tercatat sebagai Paryatin, sementara nama Dewi Astutik adalah nama adiknya sendiri. Pergantian nama itu kelak menjadi bagian dari kisah panjang yang menuntunnya pada kehidupan lain yang jauh dari kampung halamannya.

Sejak 2015, ia merantau sebagai Pekerja Migran Indonesia, berganti negara dari Hong Kong, lalu Taiwan, hingga akhirnya tinggal di Kamboja. Satu dekade bekerja di luar negeri membuatnya jauh dari keluarga dan lingkungan yang ia kenal. Namun tidak ada yang menduga bahwa perjalanannya pelan-pelan berbelok ke jalur gelap yang membawanya masuk ke jaringan narkotika internasional.

Perjalanan itu terhenti ketika Badan Narkotika Nasional menangkapnya di Sihanoukville, Kamboja, pada 2 Desember 2025. Operasi dilakukan secara senyap dan terkoordinasi, dipimpin Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN Roy Hardi Siahaan, bekerja sama dengan BAIS TNI, Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, serta Atase Pertahanan RI.

Dewi ditangkap ketika berjalan menuju lobi hotel, tanpa perlawanan, tanpa menunjukkan tanda bahwa ia adalah buronan kelas internasional. Bagi aparat, keberhasilan ini penting karena ia diduga terlibat dalam penyelundupan dua ton sabu senilai Rp5 triliun, yang berkaitan dengan jaringan Golden Triangle, salah satu sindikat narkotika terbesar di Asia.

Setelah proses verifikasi identitas di Phnom Penh, ia akan dipulangkan ke Indonesia untuk menjalani pemeriksaan intensif. Pemeriksaan ini dibutuhkan untuk membuka alur pendanaan, jalur distribusi, serta sosok-sosok lain yang bekerja dalam jejaring tersebut. Jaringan yang melibatkan Dewi diduga mengelola pengambilan dan distribusi kokain, sabu, dan ketamin menuju Asia Timur dan Asia Tenggara.

Operasi lintas negara itu tidak hanya melibatkan aparat Indonesia dan Kamboja, tetapi juga jalur diplomatik KBRI Phnom Penh yang dipimpin Dubes RI Santo Darmosumarto, serta koordinasi dengan Wakil Kepala Kepolisian Nasional Kamboja Chuon Narin.

Di balik statusnya sebagai salah satu pelaku yang paling dicari, kisah Dewi Astutik tetap menyisakan sisi manusiawi. Ia pernah menjadi seorang perempuan yang pergi meninggalkan kampung demi mencari penghidupan. Ia tidak tumbuh sebagai pelaku kriminal, tetapi kemudian terjerumus pada dunia yang jauh dari hidupnya yang sederhana. Entah karena tekanan ekonomi, lingkungan yang rentan, atau rayuan jalan pintas yang berujung pada kehancuran.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa banyak pekerja migran menghadapi tekanan dan ketidakpastian di luar negeri. Sebagian berhasil bertahan, sebagian lain terseret dalam jebakan yang sulit dihindari, bahkan bisa jadi menjadi korban penipuan maupun eksploitasi.

BNN menegaskan bahwa penindakan tidak berhenti pada penangkapan Dewi Astutik. Jaringan yang menaunginya akan terus diburu hingga ke akar-akarnya untuk memutus alur peredaran narkotika internasional yang telah memakan begitu banyak korban.

By Lina