Serangan IRGC Basis Militer AmerikaIRGC luncurkan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Kuwait saat malam Lailatul Qadar.

SUMUT.DISWAY.ID. KUWAIT – Konflik di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan serangan besar-besaran ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait. Operasi yang berlangsung tepat pada malam ke-21 bulan suci Ramadan atau malam Lailatul Qadar ini dilaporkan melukai sedikitnya 100 tentara Amerika.

Serangan tersebut merupakan bagian dari gelombang ke-38 operasi “True Promise 4” dengan sandi operasional “Ya Haydar al-Karrar”. Melalui pernyataan resminya, IRGC mengonfirmasi penggunaan kombinasi rudal dan drone canggih untuk menghantam Pangkalan Udara Al-Udairi di Kuwait yang menjadi markas unit helikopter AS.

Hantaman dua rudal secara simultan menyebabkan kerusakan masif dan kepanikan di area barak prajurit. Laporan terbaru menyebutkan bahwa lebih dari 100 tentara yang terluka kini menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Al-Jaber dan Al-Mubarak di Kuwait.

Fasilitas Strategis Armada Kelima Lumpuh

Selain menargetkan personel, serangan udara Iran juga menyasar infrastruktur militer yang sangat krusial. IRGC mengklaim telah menghancurkan sistem “LEADS” di Pelabuhan Mina Salman, yang merupakan markas komando Armada Kelima Amerika Serikat. Sistem tersebut memiliki peran vital dalam koordinasi navigasi dan intelijen laut AS di kawasan Teluk.

Operasi ini juga menyasar sistem pertahanan udara Patriot yang selama ini menjadi tameng utama pasukan koalisi. Gudang peralatan militer serta barak pasukan di pangkalan angkatan laut “Mohammad al-Ahmad” dan “Ali al-Salem” dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat hantaman proyektil Iran.

Pihak IRGC menegaskan bahwa operasi militer terhadap pasukan yang mereka sebut sebagai organisasi teroris Amerika dan rezim Zionis tidak akan berhenti. Iran menuntut penyerahan total musuh sebagai syarat berakhirnya konfrontasi fisik di kawasan tersebut.

Upaya Mengangkat Bayang-Bayang Perang

Kementerian Pertahanan Iran menyatakan bahwa serangan ini merupakan bentuk defensif untuk melindungi kedaulatan bangsa dari ancaman asing. “Perang ini baru akan berakhir ketika bayang-bayang ancaman militer benar-benar terangkat dari negara kami,” tulis pernyataan resmi IRGC.

Ketegangan yang terus meningkat ini dikhawatirkan akan memicu perang terbuka yang lebih luas di kawasan Teluk. Hingga saat ini, pihak Pentagon belum memberikan keterangan resmi secara terperinci mengenai total kerugian materi dan langkah balasan yang akan mereka ambil menyusul serangan mematikan di Kuwait tersebut.

Dunia internasional kini menanti reaksi dari Dewan Keamanan PBB dan negara-negara tetangga di kawasan Teluk guna mencegah eskalasi yang lebih destruktif di tengah bulan suci Ramadan.

By Lina